Tampilkan postingan dengan label torehan saya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label torehan saya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Desember 2011

Untuk Ibu

 
Tuhan, selalu jaga ibuku yang kusayang

Berikan ia pundak yang kuat untuk menanggung bebannya
Berikan ia kekuatan hati untuk memikul penderitaan
Jika mungkin suatu saat aku tak sengaja mengecewakannya

Tuhan…
Engkau membuatnya dari tulang rusuk pria
Untuk selalu melindungi hati suaminya
Ia tidak Kau ambil dari kaki untuk menjadi alas suaminya
Dan tidak juga Kau ambil dari kepala untuk menjadi atasan suaminya
Melainkan Kau ambil dari sisinya untuk mendampinginya
Yang kelak juga sebagai pendamping anak-anaknya

Dan yang terakhir…
Terima kasih, Tuhan…
Untuk semua pekerjaan beratnya
Kau berikan ia air mata untuk tetap membuatnya bertahan
Untuk meredam segala keluhannya
Dan kadang membuat yang melihat ikut menitikkan air mata melihatnya
Tolong selalu kuatkan hatinya…
Ia selalu ada dalam hatiku, sebagai Ibu Periku
Seperti aku selalu ada dalam setiap doa yang ia panjatkan untukMu…

U.A.S. part 2


Setelah dirasa siap, ia pergi ke sekolah. Sesampainya di sekolah ada saja yang dikerjakan. Aku rasa kalian mengerti :p
Pengawas masuk ke dalam ruangan bak hakim yang sudah dipersilahkan panitera untuk memasuki ruang sidang. Tas diletakkan di depan kelas bukanlah hal menakjubkan karena banyak “tas-tas super mini” yang bergentayangan di antara mereka.
Kertas dibagi dan dimulailah potret negeri ini. Suara-suara bersahutan mengiringi detik demi detik waktu yang telah disediakan. Tentunya para “master” yang sudah tersohor karena “kepintarannya” mengeluarkan ilmu mereka. Dan untuk para “junior” yang belum terlalu ahli melakukannya, pelan-pelan “berdendang ria”, juga ingin mendapatkan hak yang sama. Sesekali, pengawas menyuruh diam dan kembali ke kesibukannya. Entah membaca koran, mengutak-atik laptop, pencet-pencet hp, dan lain lain yang sama sekali tidak ingin diketahui oleh “penjawab-penjawab soal” ini. Karena mereka tahu, semakin sibuk sang pengawas, semakin berjayalah mereka.
Waktu habis. Jika mereka sudah selesai, tentunya akan dengan berjalan melenggang tanpa beban mengumpulkan soal + “jawaban” mereka. Dan jika belum selesai, tentu saja sudah pasti. Kalian pasti tahu :p
UAS  hari itu selesai dan UAS dengan materi ujian berbeda datang menjemput lagi esok hari. Apa jalan ceritanya sama? Entahlah…. 

Kamis, 08 Desember 2011

U.A.S. part 1


Fiiuuhh..

Tugas-tugas terselesaikan, giliran UAS meminta untuk ditemani. Sekolah tidak lelah-lelahnya membuat penghuni sekolah yang sudah lelah semakin lelah. Sepulang sekolah, setumpuk buku meraung-raung meminta pemiliknya untuk segera membacanya agar tak sia-sia mereka diciptakan. Sang empu berusaha belajar dengan otaknya, meskipun tangan tak henti-hentinya memencet keypad hp yang sudah kocak ataupun sudah tak berupa karena huruf-hurufnya sudah terhapus akibat ulah tangan sang empu (makanya touch screen dong! Jadul :p).

Malam tiba. Sang empu lelah memandangi bukunya dan sang buku pun sepertinya tidak ingin dibaca lagi karena sudah terlalu malu dipandangi sang empu terus menerus. Berniat makan ataupun sekedar ngemil di malam hari mungkin bisa mengobati rasa lelah mata, otak dan tentunya tangan. Ditemani televisi yang tak henti-hentinya mengoceh sepanjang hari seolah berkata bahwa ia hidup selamanya dan tak akan pernah mati menemani sang pemilik jika ia penat. Sang pemilik seakan dibuai hingga tak memikirkan tagihan listrik yang siap menantinya (gak peduli, yang bayar kan ortu).
Setelah terasa cukup bosan memandangi televisi, beranjaklah ke kamar. Hal yang terjadi memang tak selalu seperti tujuan awal. Berniat merebahkan diri beralih menjadi pekerjaan sehari-hari yang tak boleh absen dari daftar hadir kegiatannya. Orang-orang menyebutnya “OL”. Saking cintanya, tak lupa setiap hari akan selalu mengecek keadaannya. Apapun yang “dikatakan”, tak akan pernah lupa untuk meng”comment” mesra semuanya. Sampai-sampai lupa untuk membiarkan otaknya mengatur nafas yang tersengal-sengal karena lelah maraton menjejaki halaman-halaman buku. Saat sudah tidak kuat lagi, akhirnya menutup tirai penglihatannya. Entah karena berniat atau ketiduran, itu bukanlah suatu masalah penting baginya (untuk sementara itu).

Esoknya, bangun telat mungkin sudah terlalu biasa. Bersiap mandi, sarapan, dan menyiapkan buku-buku kesayangannya (--“). Saking buru-burunya, tak sadar bahwa ia belum sholat. Ia menjadi ragu memikirkannya karena hal itu memang benar. Tapi sejenak kemudian, ia tak menghiraukan lagi pikiran yang singgah itu. Ia berkata bak calon presiden yang sedang berkampanye untuk meminta dukungan, “aku janji besok pasti aku lakukan dan tidak melupakannya lagi. Itu janjiku untuk kewajibanku (dan mungkin harus selalu ada yang mengingatkan, “kau berjanji yang sama kemarin”).

Rabu, 07 Desember 2011

Tidak bolehkah berimpian?



Impian, sesuatu yang lumrah untuk dimiliki tiap manusia. Namun, ada yg bicara , “ mimpi gak usah neko-neko” , “jangan tinggi-tinggi kalau mimpi” , “terlalu tidak masuk akal”
Apakah impian harus masuk akal?
Impianku sendiri pengen ketemu sm Inuyasha & Naruto. But the real Inuyasha &Naruto. Terlalu tidak masuk akal yaa? :/
Menurutku, apa-apa yang baik dan tidak ada kadar negatifnya boleh dijadikan suatu impian. Dan impian yg masuk akal bisa saja menjadi kenyataan.  Dengan adanya impian, seseorang bisa membuat patokan hidup mereka selanjutnya. Seperti dalam olahraga softball, impian bisa disebut sebagai base. Dan dalam hidup, base-base impian kita tidak terbatas. Kita bisa membuat base-base impian sebanyak mungkin yang kita mau. Apalagi jika tidak hanya membuatnya. Dengan mewujudkannya, bayangkanlah bagaimana kita melihat impian-impian itu berjajar di depan mata dan kita hanya tinggal “mendouble-click” untuk membukanya. Hehe :D
Impian adalah base-base dimana kita nantinya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapainya. Dan buatlah base-base impian kalian sendiri lalu lihatlah suatu saat kalian telah jauh melewati base-base itu.

Jadi, sudah berapa banyak base impianmu yg sudah terwujud? :D