Rabu, 13 Juni 2012

Saat Hidup Susah Untuk Dijalani


Seorang professor berdiri di depan
kelas filsafat dan mempunyai
beberapa barang di depan mejanya.

Saat kelas dimulai, tanpa
mengucapkan sepatah kata, dia
mengambil sebuah toples mayones
kosong yang besar dan mulai mengisi
dengan bola-bola golf.

Kemudian dia berkata pada para
muridnya, apakah toples itu sudah
penuh? Mahasiswa menyetujuinya.

Kemudian professor mengambil sekotak
batu koral dan menuangkannya ke
dalam toples. Dia mengguncang dengan
ringan. Batu-batu koral masuk,
mengisi tempat yang kosong di antara
bola-bola golf.

Kemudian dia bertanya pada para
muridnya, Apakah toples itu sudah
penuh? Mereka setuju bahwa toples
itu sudah penuh.

Selanjutnya profesor mengambil
sekotak pasir dan menebarkan ke
dalam toples...

Tentu saja pasir itu menutup segala
sesuatunya. Profesor sekali lagi
bertanya apakah toples sudah penuh?

Para murid dengan suara bulat
berkata, "Yaa!"

Profesor kemudian menyeduh dua
cangkir kopi dari bawah meja dan
menuangkan isinya ke dalam toples,
dan secara efektif mengisi ruangan
kosong di antara pasir.

Para murid tertawa...

"Sekarang," kata profesor ketika
suara tawa mereda, "Saya ingin
kalian memahami bahwa toples ini
mewakili kehidupanmu.
"

"Bola-bola golf adalah hal-hal yang
penting - Tuhan, keluarga, anak-anak,
kesehatan, teman dan para
sahabat. Jika segala sesuatu hilang
dan hanya tinggal mereka, maka
hidupmu masih tetap penuh.
"

"Batu-batu koral adalah segala hal
lain, seperti pekerjaanmu, rumah
dan mobil.
"

"Pasir adalah hal-hal yang lainnya
- hal-hal yg sepele.
"

"Jika kalian pertama kali memasukkan
pasir ke dalam toples,
"  lanjut
profesor, "Maka tidak akan tersisa
ruangan untuk batu koral ataupun
untuk bola-bola golf. Hal yang sama
akan terjadi dalam hidupmu
."

"Jika kalian menghabiskan energi
untuk hal-hal sepele, kalian tidak
akan mempunyai ruang untuk hal-hal
yang penting buat kalian
"

"Jadi..."

"Berilah perhatian untuk hal-hal
yang kritis untuk kebahagiaanmu.
Bermainlah dengan anak-anakmu.
Luangkan waktu untuk check up
kesehatan.


Ajak pasanganmu untuk keluar makan
malam. Akan selalu ada waktu untuk
membersihkan rumah, dan memperbaiki
mobil atau perabotan.
"

"Berikan perhatian terlebih dahulu
kepada bola-bola golf - Hal-hal
yang benar-benar penting. Atur
prioritasmu. Baru yang terakhir,
urus pasir-nya
."

Salah satu murid mengangkat tangan
dan bertanya, "Kalau Kopi yg
dituangkan tadi mewakili apa?"

Profesor tersenyum, "Saya senang
kamu bertanya. Itu untuk menunjukkan
kepada kalian, sekalipun hidupmu
tampak sudah begitu penuh, tetap
selalu tersedia tempat untuk
secangkir kopi bersama sahabat"
:-)

Oleh Anne Ahira

Memaknai Arti Kehilangan


Ada seorang perempuan yang merasa sangat
kehilangan saat ditinggal mati suami yang 
sangat dicintainya. 

Demikian besar rasa cintanya, sehingga ia 
memutuskan untuk mengawetkan mayat 
suaminya dan meletakkannya di dalam kamar. 

Setiap hari, dia menangisi suaminya yang telah 
menemaninya bertahun-tahun. Wanita itu 
merasa dengan kematian suaminya, maka tidak 
ada lagi makna dari hidup yang dijalaninya.

Cerita tentang wanita itu terdengar oleh seorang 
pria bijak yang juga terkenal memiliki kesaktian 
yang tinggi. Didatanginya wanita tersebut, dan 
dia mengatakan bisa menghidupkan kembali 
suaminya. Dengan syarat dia meminta 
disediakan beberapa bumbu dapur yang mana 
hampir setiap rumah memilikinya. 

Namun, ada syarat lain, bumbu dapur tersebut 
harus diminta dari rumah yang anggota keluarganya 
belum pernah ada yang meninggal dunia sama 
sekali.

Mendengar hal itu, muncul semangat di hati 
sang wanita tersebut. Dia berkeliling ke semua 
tetangga dan berbagai penjuru tempat. Setiap 
rumah memiliki bumbu dapur yang diminta oleh 
si orang bijak, tapi setiap rumah mengaku 
pernah mengalami musibah ditinggal mati oleh 
kerabatnya. Entah itu orang tua, suami, nenek, 
kakek, adik, bahkan ada yang anaknya sudah 
meninggal. 

Waktu berjalan dan tidak ada satu pun rumah 
yang didatanginya bisa memenuhi syarat yang 
dibutuhkan.

Hal ini menjadikan wanita tersebut sadar, bahwa 
bukan hanya dirinya yang ditinggal mati oleh 
orang yang disayanginya. 

Akhirnya, dia kembali mendatangi si orang 
bijak dan menyatakan pasrah akan kematian 
suaminya. Hingga kemudian dia menguburkan 
mayat suaminya, dan menyadari bahwa semua 
orang pasti pernah mengalami masalah 
sebagaimana yang dihadapinya.

Jangan pernah 
menganggap bahwa masalah yang ada pada 
kita merupakan masalah yang paling besar
, 
sehingga kita mengorbankan waktu hanya untuk 
terus meratapi musibah tersebut. 

Yakinlah, bahwa semua orang di dunia ini 
pernah mengalami musibah,  apapun bentuknya. 
Yang membedakan adalah bagaimana 
seseorang menghadapi dan menyikapi 
masalah yang ada pada dirinya
.



Oleh Anne Ahira


Nikmatilah Perbedaan!


Lihatlah sekeliling kita, indahnya
warna-warni bunga, warna-warni satwa,
dan segala keragaman lain yang
menghiasi dunia.

Bayangkan kalau kita hanya mengenal
warna hitam saja! Alangkah gelapnya
dunia ini! :-)

Tanpa adanya perbedaan dan warna-warni,
kita tidak akan merasakan hidup
semeriah dan seindah sekarang ini,
betul?! :-)

Begitu pun dengan kehidupan, setiap
insan selalu berhadapan dengan segala
macam perbedaan dan warna-warni
kehidupan.

Tapi sayang, tidak semua orang mampu
melihat perbedaan sebagai kekayaan.
Banyak orang merasa tersiksa karena
perbedaan alias mereka tidak mampu
menikmatinya.

Berbagai bentuk kejahatan dimulai hanya
karena perbedaan. Entah itu perbedaan
warna kulit, agama, suku bangsa,
prinsip, atau sekadar pendapat.

Sebenarnya, perbedaan bukanlah sesuatu
yang bisa dihindari. Setiap orang lahir
dengan perbedaan dan keunikannya
masing-masing. Mulai dari perbedaan
fisik, pola pikir, kesenangan, dan
lain-lain.

Tidaklah mungkin segala sesuatu hal sama. 
Bahkan kesamaan pun sebenarnya tidak 
selalu menguntungkan.

Coba bayangkan, seandainya semua orang
memiliki kemampuan memimpin, lantas
siapa yang mau dipimpin? Kalau semua
orang menjadi orang tua, siapa yang mau
jadi anak? Siapa juga yang akan
menerima sedekah, jika semua orang
ditakdirkan kaya?

Perbedaan ada bukan untuk dijadikan
alat perpecahan. Banyak hal positif
yang bisa kita peroleh dengan perbedaan.

Namun, tentu saja semua itu harus 
bersyarat. Nah, syarat apa saja yang 
harus dipenuhi?

Berikut di antaranya...
1. Cara pandang kita terhadap perbedaan. 

    Berpikirlah positif dengan mensyukuri 
    adanya perbedaan. Anggaplah perbedaan 
    sebagai kekayaan. Cara pandang yang 
    benar akan melahirkan sikap yang tepat. 

   
Ada baiknya kita mencari persamaan 
    terlebih dahulu, sebelum mencari 
    perbedaan.

2. Kelola perbedaan sebaik mungkin.

    Musyawarah untuk mencapai kesepakatan
    adalah jalan yang tepat untuk mengelola
    perbedaan. 

    Berlatihlah utk menghargai, menerima, 
    menjalankan dan bertanggungjawab 
    terhadap keputusan bersama, meski 
    berlawanan dengan ide awal kita.

3. Selalu posisikan segala sesuatu 
    pada tempatnya.

    Saat bekerja sama dengan orang lain,
    salurkan potensi, karakter, minat yang
    berbeda-beda pada posisi 'yang tepat'.

    Cara ini akan mendorong tercapainya
    tujuan bersama dan mendukung
    pengembangan potensi masing-masing
    individu.

4. Jangan pernah meremehkan orang lain.

    Apapun dan bagaimana pun kondisi atau
    pendapat orang lain, perlakukan mereka
    selayaknya diri kita ingin diperlakukan. 

    Anggaplah semua orang penting. Mereka 
    memiliki peran tersendiri, yg bisa jadi 
    tdk bisa digantikan oleh orang lain.

5. Jangan menonjolkan diri atau sombong.

    Merasa diri paling penting dan lebih
    baik daripada orang lain *tidak akan*
    menambah nilai lebih bagi kita. Toh
    kita tidak bisa hidup tanpa orang lain.

    Jadilah beton dalam bangunan. Meski
    tidak nampak, namun sesungguhnya ialah
    yang menjadi penyangga kokohnya sebuah
    bangunan. :-)

6. Cari sumber informasi yang terjamin
    kebenarannya.


    Perbedaan bisa muncul karena informasi
    yang salah. Oleh sebab itu, pastikan
    sumber informasi kita bisa terjamin dan
    dapat dipercaya kebenarannya. Lebih
    bagus lagi jika disertai bukti yang
    mendukung.

7. Koreksi diri sendiri sebelum
    menyalahkan orang lain.


    Menyalahkan orang lain terus menerus
    tidak akan banyak membantu kita. Bisa
    jadi kesalahan sebenarnya terletak pada
    diri kita. Karenanya, koreksi diri 
    sendiri terlebih dahulu merupakan
    langkah yang paling bijaksana.

So, berhentilah menyesalkan perbedaan.
Karena jika tidak kamu akan
kehilangan sumber kebahagiaan! :-)


Oleh Anne Ahira 

Sistem Otot pada Manusia


Sistem otot adalah sistem tubuh yang memiliki fungsi seperti untuk alat gerak, menyimpan glikogen dan menentukan postur tubuh. Terdiri atas otot polos, otot jantung dan otot rangka. Otot merupakan alat gerak aktif yang mampu menggerakkan tulang, kulit dan rambut setelah mendapat rangsangan. Otot memiliki tiga kemampuan khusus yaitu :
1.      kontraktibilitas : kemampuan untuk berkontraksi / memendek
2.      Ekstensibilitas : kemampuan untuk melakukan gerakan kebalikan dari gerakan yang ditimbulkan saat kontraksi
3.      Elastisitas : kemampuan otot untuk kembali pada ukuran semula setelah berkontraksi. Saat kembali pada ukuran semula otot disebut dalam keadaan relaksasi.
Jenis-jenis otot
1. Otot lurik
·         Nama lain: otot rangka, otot serat lintang (musculus striated) atau otot involunter
·         Struktur : serabut panjang, berwarna/lurik dengan garis terang dan gelap, memiliki inti dalam jumlah banyak dan terletak dipinggir
·         Kontraksi: menurut kehendak kita (dibawah kendali sistem syaraf pusat), gerakan cepat, kuat, mudah lelah dan tidak beraturan
·         Struktur anatomi dari otot rangka
2. Otot Polos
·         Nama lain : otot alat-alat dalam / visceral / musculus nonstriated / otot involunter
·         Struktur : bentuk serabut panjang seperti kumparan, dengan ujung runcing, dengan inti berjumlah satu terletak dibagiann tengah.
·         Kontraksi : tidak menurut kehendak atau diluar kendali sistem saraf pusat, gerakan lambat, ritmis dan tidak mudah lelah.
3. Otot jantung
·         Nama lain: Myocardium atau musculus cardiata atau otot involunter
·         struktur : Bentuk serabutnya memanjang, silindris, bercabang. Tampak adanya garis terang dan gelap. memiliki satu inti yang terletak di tengah
·         Kontraksi: tidak menurut kehendak, gerakan lambat, ritmis dan tidak mudah lelah

Jumat, 09 Desember 2011

Untuk Ibu

 
Tuhan, selalu jaga ibuku yang kusayang

Berikan ia pundak yang kuat untuk menanggung bebannya
Berikan ia kekuatan hati untuk memikul penderitaan
Jika mungkin suatu saat aku tak sengaja mengecewakannya

Tuhan…
Engkau membuatnya dari tulang rusuk pria
Untuk selalu melindungi hati suaminya
Ia tidak Kau ambil dari kaki untuk menjadi alas suaminya
Dan tidak juga Kau ambil dari kepala untuk menjadi atasan suaminya
Melainkan Kau ambil dari sisinya untuk mendampinginya
Yang kelak juga sebagai pendamping anak-anaknya

Dan yang terakhir…
Terima kasih, Tuhan…
Untuk semua pekerjaan beratnya
Kau berikan ia air mata untuk tetap membuatnya bertahan
Untuk meredam segala keluhannya
Dan kadang membuat yang melihat ikut menitikkan air mata melihatnya
Tolong selalu kuatkan hatinya…
Ia selalu ada dalam hatiku, sebagai Ibu Periku
Seperti aku selalu ada dalam setiap doa yang ia panjatkan untukMu…

LUCU YAA...

 

Lucu ya, uang Rp 20.000an kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak amal Masjid atau Musholla, tapi begitu kecil bila dibawa ke Supermarket
Lucu ya, 45 menit terasa terlalu lama untuk berdzikir, tapi betapa singkatnya waktu itu untuk pertandingan sepak bola
Lucu ya, betapa lamanya 2 jam berada di Masjid, tapi betapa cepatnya 2 jam berlalu saat menikmati pemutaran film bioskop
Lucu ya, susah merangkai kata untuk dipanjatkan saat berdoa atau sholat, tetapi betapa mudahnya mencari bahan obrolan bila ketemu teman
Lucu ya, betapa serunya perpanjangan waktu di pertandingan bola favorit, tapi betapa bosannya bila Imam  sholat Tarawih bulan Ramadhan kelamaan bacaannya
Lucu ya, orang-orang berebut paling depan untuk nonton bola atau konser, dan berebut shaf paling belakang bila Jum’atan agar bisa cepat keluar
Lucu ya, perlu undangan pengajian 3-4 minggu sebelumnya agar bisa disiapkan di agenda, tapi untuk acara lain jadwal gampang diubah seketika
Lucu ya, susahnya orang mengajak partisipasi untuk dakwah, tapi mudahnya orang berpartisipasi menyebar gosip
Lucu ya, bisa begitu percaya pada apa yang dikatakan koran atau TV, tapi sering mempertanyakan apa yang dikatakan Al-Qur’an
Lucu ya, semua orang pengennya masuk Surga tanpa harus beriman, berpikir, berbicara, ataupun melakukan apa-apa
Begitulah, sebagian besar manusia tidak terasa sering melakukan hal-hal yang lucu!!

U.A.S. part 2


Setelah dirasa siap, ia pergi ke sekolah. Sesampainya di sekolah ada saja yang dikerjakan. Aku rasa kalian mengerti :p
Pengawas masuk ke dalam ruangan bak hakim yang sudah dipersilahkan panitera untuk memasuki ruang sidang. Tas diletakkan di depan kelas bukanlah hal menakjubkan karena banyak “tas-tas super mini” yang bergentayangan di antara mereka.
Kertas dibagi dan dimulailah potret negeri ini. Suara-suara bersahutan mengiringi detik demi detik waktu yang telah disediakan. Tentunya para “master” yang sudah tersohor karena “kepintarannya” mengeluarkan ilmu mereka. Dan untuk para “junior” yang belum terlalu ahli melakukannya, pelan-pelan “berdendang ria”, juga ingin mendapatkan hak yang sama. Sesekali, pengawas menyuruh diam dan kembali ke kesibukannya. Entah membaca koran, mengutak-atik laptop, pencet-pencet hp, dan lain lain yang sama sekali tidak ingin diketahui oleh “penjawab-penjawab soal” ini. Karena mereka tahu, semakin sibuk sang pengawas, semakin berjayalah mereka.
Waktu habis. Jika mereka sudah selesai, tentunya akan dengan berjalan melenggang tanpa beban mengumpulkan soal + “jawaban” mereka. Dan jika belum selesai, tentu saja sudah pasti. Kalian pasti tahu :p
UAS  hari itu selesai dan UAS dengan materi ujian berbeda datang menjemput lagi esok hari. Apa jalan ceritanya sama? Entahlah…. 

Abu Nawas : Hadiah Bagi Tebakan Jitu



Baginda Raja Harun Al Rasyid kelihatan murung. Semua menterinya tidak ada yang sanggup menemukan jawaban dari dua pertanyaan Baginda. Bahkan para penasihat kerajaan pun merasa tidak mampu memberi penjelasan yang memuaskan Baginda. Padahal Baginda sendiri ingin mengetahui jawaban yang sebenarnya.

Mungkin karena amat penasaran, para penasihat Baginda menyarankan agar Abu Nawas saja yang memecahkan dua teka-teki yang membingungkan itu. Tidak begitu lama Abu Nawas dihadapkan. Baginda mengatakan bahwa akhir-akhir ini ia sulit tidur karena diganggu oleh keingintahuan menyingkap dua rahasia alam.

“Tuanku yang mulia, sebenarnya rahasia alam yang manakah yang Paduka maksudkan?”, tanya Abu Nawas ingin tahu.
“Aku memanggilmu untuk menemukan jawaban dari dua teka-teki yang selama ini menggoda pikiranku”, kata Baginda.
“Bolehkah hamba mengetahui kedua teka-teki itu wahai Paduka junjungan hamba?”
“Yang pertama, di manakah sebenarnya batas jagat raya ciptaan Tuhan kita?”, tanya Baginda.
“Di dalam pikiran, wahai Paduka yang mulia”, jawab Abu Nawas tanpa sedikitpun perasaan ragu
“Tuanku yang mulia, ketidakterbatasan itu ada karena adanya keterbatasan. Dan keterbatasan itu ditanamkan oleh Tuhan di dalam otak manusia. Dari itu, manusia tidak akan pernah tahu dimana batas jagat raya ini. Sesuatu yang terbatas tentu tak akan mampu mengukur sesuatu yang tidak terbatas”

Baginda mulai tersenyum karena merasa puas mendengar penjelasan Abu Nawas yang masuk akal. Kemudian Baginda melanjutkan teka-teki yang kedua.

“Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih banyak jumlahnya : bintang-bintang di langit ataukah ikan-ikan di laut?”
“Ikan-ikan di laut”, jawab Abu Nawas dengan tangkas.
“Bagaimana kau bisa langsung memutuskan begitu. Apakah engkau pernah menghitung jumlah mereka?”, Tanya Baginda heran.
“Paduka yang mulia, bukankah kita semua tahu bahwa ikan-ikan itu setiap hari ditangkapi dalam jumlah besar. Namun begitu, jumlah mereka tetap banyak seolah-olah tidak pernah berkurang karena saking banyaknya. Sementara bintang-bintang itu tidak pernah rontok, jumlah mereka juga banyak”, jawab Abu Nawas meyakinkan.
Seketika itu, rasa penasaran yang selama ini menghantui Baginda sirna tak berbekas. Baginda Raja Harun Al Rasyid memberi hadiah Abu Nawas dan istrinya uang yang cukup banyak.

(sumber: buku KISAH 1001 MALAM SANG PENGGELI HATI , ABU NAWAS)

Abu Nawas : Ketenangan Hati

 

Sudah lama Abu Nawas tidak dipanggil ke istana untuk menghadap baginda. Abu Nawas juga sudah lama tidak muncul di kedai teh. Kawan-kawan Abu Nawas banyak yang merasa kurang bergairah tanpa kehadiran Abu Nawas. Tentu saja keadaan kedai tak semarak karena Abu Nawas si pemicu tawa tidak ada.

Suatu hari ada seorang laki-laki setengah baya ke kedai teh menanyakan Abu Nawas. Ia mengeluh bahwa ia tidak menemukan jalan keluar dari masalah pelik yang dihadapi. Salah seorang teman Abu Nawas ingin mencoba menolong. 

“Cobalah utarakan kesulitanmu kepadaku barangkali aku bisa membantu”, kata kawan Abu Nawas.
“Baiklah. Aku mempunyai rumah yang amat sempit. Sedangkan aku tinggal bersama istri dan kedelapan anak-anakku. Rumah itu kami rasakan terlalu sempit sehingga kami tidak merasa bahagia”, kata orang itu membeberkan kesulitannya.

Kawan Abu Nawas tidak mampu memberikan jalan keluar, juga yang lainnya. Sehingga mereka menyarankan agar orang itu pergi menemui Abu Nawas di rumahnya saja.
Orang itu pun pergi ke rumah Abu Nawas. Dan kebetulan Abu Nawas sedang mengaji. Setelah mengutarakan kesulitan yang sedang dialami, Abu Nawas bertanya kepada orang itu.

“Punyakah engkau seekor domba?”
“Tidak, tetapi akau mampu membelinya”, jawab orang itu
“Kalau begitu belilah seekor dan tempatkan domba itu di dalam rumahmu.” Abu Nawas menyarankan
Orang itu tidak membantah. Ia langsung membeli seekor domba seperti yang disarankan Abu Nawas.

Beberapa hari kemudian, orang itu datang lagi menemui Abu Nawas.
“Wahai Abu Nawas, aku telah melaksanakan saranmu, tetapi rumahku bertambah sesak. Aku dan keluargaku merasa segala sesuatu menjadi lebih buruk dibandingkan sebelum tinggal bersama domba.”, kata orang itu mengeluh.
“Kalau begitu belilah lagi beberapa ekor unggas dan tempatkan juga mereka di dalam rumahmu.”, kata Abu Nawas

Orang itu tidak membantah. Ia langsung membeli beberapa ekor unggas yang kemudian dimasukkan ke dalam rumahnya. Beberapa hari kemudian, orang itu datang lagi ke rumah Abu Nawas.
“Wahai Abu Nawas, aku telah melaksanakan saran-saranmu dengan menambah penghuni rumahku dengan beberapa ekor unggas. Namun, aku dan keluargaku semakin tidak betah tinggal di rumah yang makin banyak penghuninya. Kami bertambah merasa tersiksa.”, kata orang itu dengan wajah yang semakin muram.
“Kalau begitu belilah seekor anak unta dan peliharalah di dalam rumahmu.”, kata Abu Nawas menyarankan.
Orang itu tidak membantah. Ia langsung ke pasar hewan membeli seekor anak unta dipelihara di dalam rumahnya.
Beberapa hari kemudian, orang itu datang lagi menemui Abu Nawas. Ia berkata,
“Wahai Abu Nawas, tahukah engkau bahwa keadaan di dalam rumahku sekarang hamper seperti neraka. Semuanya berubah menjadi lebih mengerikan daripada hari-hari sebelumnya. Wahai Abu Nawas, kami sudah tidak tahan tinggal serumah dengan binatang-binatang itu.”
“Baiklah, kalau kalian sudah merasa tidak tahan maka juallah anak unta itu.”, kata Abu Nawas.
Orang itu tidak membantah. Ia langsung menjual anak unta yang baru dibelinya.

Beberapa hari kemudian Abu Nawas pergi ke rumah orang itu.
“Bagaimana keadaan kalian sekarang?”, Abu Nawas bertanya.
“Keadaannya sekarang lebih baik karena anak unta itu sudah tidak lagi tinggal disini”, kata orang itu tersenyum.
“Baiklah, kalau begitu sekarang juallah unggas-unggasmu.”, kata Abu Nawas
Orang itu tidak membantah. Ia langsung menjual unggas-unggasnya.

Beberapa hari kemudian, Abu Nawas mengunjungi orang itu.
“Bagaimana keadaan rumah kalian sekarang?”, Abu Nawas bertanya.
“Keadaan sekarang lebih menyenangkan karena unggas-unggas itu sudah tidak tinggal bersama kami”, kata orang itu dengan wajah ceria.
“Baiklah kalau begitu sekarang juallah domba itu”, kata Abu Nawas.
Orang itu tidak membantah. Dengan senang hati ia langsung menjual dombanya.

Beberapa hari kemudian, Abu Nawas bertamu ke rumah orang itu. Ia bertanya,
“Bagaimana keadaan rumah kalian sekarang?”
“Kami merasakan rumah kami bertambah luas karena binatang-binatang itu sudah tidak lagi tinggal bersama kami. Dan kami sekarang merasa lebih berbahagia daripada dulu. Kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepadamu hai Abu Nawas”, kata orang itu dengan wajah berseri-seri.
“Sebenarnya batas sempit dan luas itu tertancap dalam pikiranmu. Kalau engkau selalu bersyukur atas nikmat dari Tuhan maka Tuhan akan mencabut kesempitan dalam hati dan pikiranmu”, kata Abu Nawas menjelaskan.

Dan sebelum Abu Nawas pulang, ia bertanya kepada orang itu
“Apakah engkau sering berdoa?”
“Ya”, jawab orang itu.
“Ketahuilah bahwa doa seorang hamba tidak mesti diterima oleh Allah karena manakala Allah membuka pintu pemahaman kepada engkau ketika Dia tidak memberi engkau, maka ketiadaan pemberian iu merupakan pemberian yang sebenarnya.”

(sumber: buku KISAH 1001 MALAM SANG PENGGELI HATI , ABU NAWAS)

Kamis, 08 Desember 2011

U.A.S. part 1


Fiiuuhh..

Tugas-tugas terselesaikan, giliran UAS meminta untuk ditemani. Sekolah tidak lelah-lelahnya membuat penghuni sekolah yang sudah lelah semakin lelah. Sepulang sekolah, setumpuk buku meraung-raung meminta pemiliknya untuk segera membacanya agar tak sia-sia mereka diciptakan. Sang empu berusaha belajar dengan otaknya, meskipun tangan tak henti-hentinya memencet keypad hp yang sudah kocak ataupun sudah tak berupa karena huruf-hurufnya sudah terhapus akibat ulah tangan sang empu (makanya touch screen dong! Jadul :p).

Malam tiba. Sang empu lelah memandangi bukunya dan sang buku pun sepertinya tidak ingin dibaca lagi karena sudah terlalu malu dipandangi sang empu terus menerus. Berniat makan ataupun sekedar ngemil di malam hari mungkin bisa mengobati rasa lelah mata, otak dan tentunya tangan. Ditemani televisi yang tak henti-hentinya mengoceh sepanjang hari seolah berkata bahwa ia hidup selamanya dan tak akan pernah mati menemani sang pemilik jika ia penat. Sang pemilik seakan dibuai hingga tak memikirkan tagihan listrik yang siap menantinya (gak peduli, yang bayar kan ortu).
Setelah terasa cukup bosan memandangi televisi, beranjaklah ke kamar. Hal yang terjadi memang tak selalu seperti tujuan awal. Berniat merebahkan diri beralih menjadi pekerjaan sehari-hari yang tak boleh absen dari daftar hadir kegiatannya. Orang-orang menyebutnya “OL”. Saking cintanya, tak lupa setiap hari akan selalu mengecek keadaannya. Apapun yang “dikatakan”, tak akan pernah lupa untuk meng”comment” mesra semuanya. Sampai-sampai lupa untuk membiarkan otaknya mengatur nafas yang tersengal-sengal karena lelah maraton menjejaki halaman-halaman buku. Saat sudah tidak kuat lagi, akhirnya menutup tirai penglihatannya. Entah karena berniat atau ketiduran, itu bukanlah suatu masalah penting baginya (untuk sementara itu).

Esoknya, bangun telat mungkin sudah terlalu biasa. Bersiap mandi, sarapan, dan menyiapkan buku-buku kesayangannya (--“). Saking buru-burunya, tak sadar bahwa ia belum sholat. Ia menjadi ragu memikirkannya karena hal itu memang benar. Tapi sejenak kemudian, ia tak menghiraukan lagi pikiran yang singgah itu. Ia berkata bak calon presiden yang sedang berkampanye untuk meminta dukungan, “aku janji besok pasti aku lakukan dan tidak melupakannya lagi. Itu janjiku untuk kewajibanku (dan mungkin harus selalu ada yang mengingatkan, “kau berjanji yang sama kemarin”).

Rabu, 07 Desember 2011

Tidak bolehkah berimpian?



Impian, sesuatu yang lumrah untuk dimiliki tiap manusia. Namun, ada yg bicara , “ mimpi gak usah neko-neko” , “jangan tinggi-tinggi kalau mimpi” , “terlalu tidak masuk akal”
Apakah impian harus masuk akal?
Impianku sendiri pengen ketemu sm Inuyasha & Naruto. But the real Inuyasha &Naruto. Terlalu tidak masuk akal yaa? :/
Menurutku, apa-apa yang baik dan tidak ada kadar negatifnya boleh dijadikan suatu impian. Dan impian yg masuk akal bisa saja menjadi kenyataan.  Dengan adanya impian, seseorang bisa membuat patokan hidup mereka selanjutnya. Seperti dalam olahraga softball, impian bisa disebut sebagai base. Dan dalam hidup, base-base impian kita tidak terbatas. Kita bisa membuat base-base impian sebanyak mungkin yang kita mau. Apalagi jika tidak hanya membuatnya. Dengan mewujudkannya, bayangkanlah bagaimana kita melihat impian-impian itu berjajar di depan mata dan kita hanya tinggal “mendouble-click” untuk membukanya. Hehe :D
Impian adalah base-base dimana kita nantinya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapainya. Dan buatlah base-base impian kalian sendiri lalu lihatlah suatu saat kalian telah jauh melewati base-base itu.

Jadi, sudah berapa banyak base impianmu yg sudah terwujud? :D

saya :D

ao,, assalamualaikum :)
mari berkenalan !!
disini Syafiatul Chusnaini. Panggilan boleh apa aja, asal jangan menyeleweng dari kodrat nama >,<
Lahir, alhamdulillah dengan normal dan selamat tgl 21 oktober 1995 di Sidoarjo. Hobi? Baca komik (pokoknya apa aja yg bikin pengen baca) , tiduran , nonton tv , gambar anime-anime gak jelas  bentuknya –“ .
anaknya.. rada lola , punya penyakit nangis yg udh akut , penakut kelas berat , suka ketawa (yg gk lucu sama sekali pun diketawain –“)
sekarang lg makan bangku SMA :o , haha . tepatnya di MANSDA (gk tau? Googling sana :p)
blog ini dibuat semata-mata awalnya gara-gara tugas TIK , tapi asik juga buat bikin catatan-catatan gak jelas (dasar! Hidup penuh dengan ketidakjelasan)
jadi, sekian dulu dr creator blog ini, semoga bisa mengambil manfaat dr ketidakjelasan blog ini :o (haa?)
cheerio , wassalamualaikum :) 

Minggu, 14 Agustus 2011

Si Kupu-kupu

Suatu hari, seseorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu. Dia duduk dan mengamati selama beberapa jam kupu-kupu dalam kepompong itu ketika dia berjuang memaksa dirinya melewati lubang kecil itu. Kemudian sang kupu-kupu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.
Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya. Dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh yang gembung dan kecil, serta sayap-sayap yang mengerut. Orang tersebut terus mengamatinya, karena dia berharap bahwa pada suatu saat, sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya. Sayang, semuanya tak pernah terjadi.
Kenyataanya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengerut. Dia tidak pernah bisa terbang. Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil tersebut adalah cara Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya. Sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.
Kadang, perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin akan malah melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak pernah bisa untuk terbang.

Kita memohon kekuatan, dan Tuhan memberi kita kesulitan-kesulitan untuk membuat kita kuat.
Kita memohon kebijakan, dan Tuhan memberi kita persoalan untuk diselesaikan.
Kita memohon keteguhan hati, dan Tuhan memberi kita bahaya untuk diatasi.
Kita memohon cinta, dan Tuhan memberi kita orang-orang bermasalah untuk ditolong.
Kita memohon kemurahan hati, dan Tuhan memberi kita kesempatan-kesempatan.
Mungkin kita tidak memperoleh apa yang kita inginkan, tetapi kita mendapatkan apa saja yang kita butuhkan.
:)